Selasa, 03 Januari 2012

Majas

Majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran si pengarang.

1) Majas Metafora : Gabungan dua hal yang berbeda yang dapat membentuk suatu pengertian baru.

Contoh : Raja siang, kambing hitam

2) Majas Alegori : Majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan yang utuh.

Contoh : Suami sebagai nahkoda, Istri sebagai juru mudi

3) Majas Personifikasi : Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat – sifat manusia kepada benda, sehingga benda mati seolah-olah hidup.

Contoh : Awan menari – nari di angkasa, baru saja berjalan 8 km mobilnya sudah batuk – batuk


4) Majas Perumpamaan ( Majas Asosiasi ) : Suatu perbandingan dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama.
Contoh : Bagaikan harimau pulang kelaparan, seperti menyulam di kain yang lapuk

5) Majas Antilesis : Gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berlawanan.

Contoh : Air susu dibalas air tuba

6) Majas Hiperbola : Suatu gaya bahasa yang bersifat melebih – lebihkan.

Contoh : Ibu terkejut setengah mati, ketika mendengar anaknya kecelakaan

7) Majas Ironi : Gaya bahasa yang bersifat menyindir dengan halus.

Contoh : Bagus sekali tulisanmu, sampai – sampai tidak bisa dibaca

8) Majas Litotes : Majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan tujuan untuk merendahkan hati.

Contoh : Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah )

9) Majas Sinisme : Majas yang menyatakan sindiran secara langsung.

Contoh : Perilakumu membuatku kesal

10) Majas Metonimia : Majas yang memakai merek suatu barang.

Contoh : Kami ke rumah nenek naik kijang

11) Majas Alusio : Majas yang mepergunakan peribahasa / kata – kata yang artinya diketahui umum.

Contoh : Upacara ini mengingatkan aku pada proklamasi kemerdekaan tahun 1945

12) Majas Eufemisme : Majas yang menggunakan kata – kata / ungkapan halus / sopan.

Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan

13) Majas Pleonasme : Majas yang menggunakan kata – kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti suatu kata.

Contoh : Mari naik ke atas agar dapat meliahat pemandangan

14) Majas Antiklimaks : Majas yang menyatakan sesuatu hal berturut – turut yang makin lama makin menurun.

Contoh : Para bupati, para camat, dan para kepala desa

15) Majas Klimaks : Majas yang menyatakan beberapa hal berturut – turut yang makin lama makin mendebat.

Contoh : Semua anak – anak, remaja, dewasa, orang tua dan kakek

Senin, 02 Januari 2012

Sekilas Cahiril Anwar

 
      Chairil Anwar lahir di Medan, 26 Juli 1922 adalah penyair terkemuka di Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin dinobatkan oleh H.B.Jassin sebagai pelopor angkatan '45 dan puisi modern indonesia. Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi ketika zaman penjajahan Belanda, kemudian meneruskan pemdidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda. Tetapi ia keluar sebelum lulus. Ia pun mulai menulis tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.
      Pada usia 19 tahun setelah perceraian orang tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta dimana ia berkenalan dengan dunia sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, ia menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Jerman, dan ia mengisi waktu luangnya dengan membaca. Berikut adalah sebagian karya sastra Chairil Anwar.

AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu 

Aku ini binatang jalang 
Dari kumpulannya terbuang 

Biar peluru menembus kulitku 
Aku tetap meradang menerjang 

Luka dan bisa kubawa berlari 
Berlari 
Hingga hilang pedih peri 

Dan aku akan lebih tidak perduli 

Aku mau hidup seribu tahun lagi 

Maret 1943

KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi 
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi. 
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, 
terbayang kami maju dan mendegap hati ? 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu. 
Kenang, kenanglah kami. 

Kami sudah coba apa yang kami bisa 
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa 

Kami cuma tulang-tulang berserakan 
Tapi adalah kepunyaanmu 
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan 

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan 
atau tidak untuk apa-apa, 
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata 
Kaulah sekarang yang berkata 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 

Kenang, kenanglah kami 
Teruskan, teruskan jiwa kami 
Menjaga Bung Karno 
menjaga Bung Hatta 
menjaga Bung Sjahrir 

Kami sekarang mayat 
Berikan kami arti 
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian 

Kenang, kenanglah kami 
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu 
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi 

(1948) 
Brawidjaja, 
Jilid 7, No 16, 
1957

SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi 
Kau depanku bertudung sutra senja 
Di hitam matamu kembang mawar dan melati 
Harum rambutmu mengalun bergelut senda 

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba 
Meriak muka air kolam jiwa 
Dan dalam dadaku memerdu lagu 
Menarik menari seluruh aku 

Hidup dari hidupku, pintu terbuka 
Selama matamu bagiku menengadah 
Selama kau darah mengalir dari luka 
Antara kita Mati datang tidak membelah... 

Kamis, 29 Desember 2011

Macam-macam pantun

     Pantun adalah salah satu jenis puisi lama. Pantun terikat beberapa aturan. Pertama, pantun terdiri dari 4 baris dan terbagi menjadi 2 bagian. 2 baris pertama adalah sampiran yang berfungsi sebagai pengantar rima. sedangkan 2 baris terakhir adalah isi yang merupakan inti makna dari pantun tersebut.
     Kedua, pantun terikat rima dan memiliki sajak a-b-a-b. tidak boleh menggunakan sajak a-a-a-a, a-b-b-a, a-a-b-b, dll. apabila menggunakannya, pantun tersebut sudah bukan pantun lagi, melainkan hanya puisi biasa.
     Ketiga, pantun terdiri dari 4-6 dan 8=12 suku kata. Namun aturan yang ketiga ini sudah sering dilanggar, maka dari itu aturan yang ketig ini sering dihilangkan.
     Macam-macam pantun: pantun nasihat, pantun agama, pantun jenaka.
  1. Pantun nasihat biasanya berisi ajakan untuk melakukan suatu kebaikan
Hati-hati berkata
Dari Pati ke Surakarta
Naik kereta supaya cepat
Hati-hati dalam berkata
Agar anda bisa selamat
     2.   Pantun agama biasanya berisi ke-Esaan Allah dan balasan di kemudian hari
Mati sebelum tobat
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
     3.   Pantun jenaka, terdapat unsur pengajaran, nasihat, dan sindiran didalamnya
Tuli dan buta
Orang Sasak pergi ke Bali
Membawa pecinta sesamanya
Berbisik pekak dengan si tuli
Tertawa si buta melihatnya

Selasa, 20 Desember 2011

Perkenalan

Nama   : Isti Rejeki Purwandari
NIM     : 0903400
Kelas   : 3 Bahasa